Selasa, 05 Juni 2018

Pengertian Hadits dan Macam-Macamnya

Tidak ada komentar:
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur’an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah.
Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.

I. Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya Perawi

I.A. Hadits Mutawatir

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Berita itu mengenai hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera. Dan berita itu diterima dari sejumlah orang yang semacam itu juga. Berdasarkan itu, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:
  1. Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.
  2. Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath’iy.
  3. Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.

I.B. Hadits Ahad

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Sifatnya atau tingkatannya adalah “zhonniy”. Sebelumnya para ulama membagi hadits Ahad menjadi dua macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha’if. Namun Imam At Turmudzy kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi tiga macam, yaitu:

I.B.1. Hadits Shahih

Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu’allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
  1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.
  2. Harus bersambung sanadnya
  3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.
  4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)
  5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
  6. Tidak cacat walaupun tersembunyi.

I.B.2. Hadits Hasan

Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.

I.B.3. Hadits Dha’if

Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.

II. Menurut Macam Periwayatannya

II.A. Hadits yang bersambung sanadnya

Hadits ini adalah hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad SAW. Hadits ini disebut hadits Marfu’ atau Maushul.

II.B. Hadits yang terputus sanadnya

II.B.1. Hadits Mu’allaq

Hadits ini disebut juga hadits yang tergantung, yaitu hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang berarti termasuk hadits dha’if.

II.B.2. Hadits Mursal

Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi’in dari Nabi Muhammad SAW tanpa menyebutkan sahabat tempat menerima hadits itu.

II.B.3. Hadits Mudallas

Disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad ataupun pada gurunya. Jadi hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

II.B.4. Hadits Munqathi

Disebut juga hadits yang terputus yaitu hadits yang gugur atau hilang seorang atau dua orang perawi selain sahabat dan tabi’in.

II.B.5. Hadits Mu’dhol

Disebut juga hadits yang terputus sanadnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi’it dan tabi’in dari Nabi Muhammad SAW atau dari Sahabat tanpa menyebutkan tabi’in yang menjadi sanadnya. Kesemuanya itu dinilai dari ciri hadits Shahih tersebut di atas adalah termasuk hadits-hadits dha’if.

III. Hadits-hadits dha’if disebabkan oleh cacat perawi

III.A. Hadits Maudhu’

Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.

III.B. Hadits Matruk

Yang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.

III.C. Hadits Mungkar

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.

III.D. Hadits Mu’allal

Artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma’lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu’tal (hadits sakit atau cacat).

III.E. Hadits Mudhthorib

Artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan.

III.F. Hadits Maqlub

Artinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi).

III.G. Hadits Munqalib

Yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah.

III.H. Hadits Mudraj

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.

III.I. Hadits Syadz

Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.

Jumat, 10 Maret 2017

Al-Qur'an Dan Pengembangan Sistem Informasi

Tidak ada komentar:
Ketika buku La Bible, La Coran, et la Science karya Dr. Maurice Bucaille, seorang dokter ahli bedah di Perancis terbit dan diterjemahkan dalam beberapa bahasa; Inggris, Arab, Turki, Serbo-Croat dan Indonesia, sejumlah kalangan muslim terhenyak kagum dan sekaligus terhibur. Al-Quran bukan saja fasih berbicara tentang surga, neraka, pahala, siksa dan dimensi-dimensi lain non-material, tetapi juga tentang banyak penemuan ilmiah mutakhir yang belum pernah tersentuh. Ayat-ayat al-Quran seakan-akan mempunyai makna baru yang benar-benar sesuai dengan dinamika ilmu pengetahuan modern, sekalipun premis ini tentu tidak benar; karena al-Quran memang sarat berisi pengetahuan super modern yang memerlukan rasio penalaran ganda untuk membongkarnya.
Dalam sebuah paragrap tulisannya, Bucaille mengkritik para mufasir yang menterjemahkan ayat-ayat secara salah karena tidak memiliki disiplin pengetahuan ilmiah tertentu yang diperlukan untuk memahami arti yang sebenarnya. Menurut Bucaille, hal itu disebabkan oleh tradisi para mufasir yang sering dianggap sangat berwenang, walaupun mereka tidak memiliki pengetahuan ilmiah. Gaya tafsir itu dapat dilihat dalam tafsir-tafsir kelasik yang memasung kretifitas penafsiran baru dan hanya menitik beratkan pada persoalan-persoalan keagamaan secara an sich. Para ahli tafsir kelasik telah gagal dalam menguraikan makna ayat-ayat yang berhubungan dengan alam, yang dalam tradisi keilmuan disebut tafsir ilmi.
Kritikan Bucaille itu bukannya tidak menuai kecaman dari sejumlah cendekiawan muslim. Secara tegas Dr. Ziauddin Sardar menolak upaya mengilmiahkan ayat-ayat al-Quran yang disesuaikan dengan rasio empirik. Sebab jika suatu ayat ditarik paksa untuk menunjang suatu teori ilmiah, yang terjadi adalah penafsiran ilmu pengetahuan oleh al-Quran dan bukannya ilmu pengetahuan menafsirkan al-Quran. Akibatnya jika teori keilmuan itu jatuh, maka jatuh pula nilai kesucian ayat al-Quran. Kebenaran al-Quran adalah kebenaran mutlak, sedangkan kebenaran ilmiah adalah bersifat nisbi, karenanya selalu berubah mengikuti dinamika perubahan jaman.
Kehebatan al-Quran dengan sifat ‘ijaz-nya selalu menarik orang lain untuk berkomentar. Jauh sebelumnya, Dr. Hartwig Hirschfel dari Inggris secara simpatik mengatakan; kita tidak usah terkejut menyaksikan sumber ilmu pengetahuan dalam al-Quran. Setiap subjek yang ada di dalamnya, berhubungan dengan langit atau bumi, kehidupan manusia, perniagaan dan berbagai bentuk perdagangan juga terkadang disinggung; semua ini memberi ransangan munculnya berbagai risalah ilmu pengetahuan.
Hal sama disampaikan Robert Briffautl; ia mengatakan; al-Quran bukan hanya menghimbau pemikiran serta penyelidikan alam semesta secara umum. Ia berbuat jauh lebih banyak dengan memberikan tuntunan mengenai metode penataran induktif, untuk memberikan prinsip-prinsip pokok mencakup kesatuam alam, kesatuan umat dan kesatuan ilmu. Masih banyak para pemikir non-muslim yang apresiatif terhadap al-Quran. Tetapi, menurut Fazlurrahman Ansari, satu literatur keagamaan yang suci ini sering kali kita timbun di bawah gramatika dan retorika sehingga jarang diajarkan sesuai tuntutan yang ada di dalamnya, karena takut bahwa kajian yang bermakna atas al-Quran dapat mengacaukan status quo, bukan saja dalam ranah pendidikan dan teologi tetapi juga di bidang sosial. Kebenaran ajaran al-Quran harus ditransformasikan secara riil oleh umat ini guna membuktikan kredo mereka sebagai umat pilihan.
*****
Peristiwa di Gua Hira` yang terjadi pada abad ke 7 menandai titik awal pembangunan dunia baru. Hal ini dimulai dengan kehadiran informasi dari alam lain yang telah lama terhenti hingga mengakibatkan kacaunya tatanan dunia. Perintah membaca (al-Alaq: 1-5) yang disampaikan Jibril kepada Muhammad saw adalah gabungan dua dimensi antara science dan keyakinan, eksoteris dan esoteris; yang satu (iqra`/membaca) menjadi dasar terbentuknya manusia berbudaya yang mengarah pada kemajuan ilmu pengetahuan, dan yang lain (bi-ismi rabbik al-lazii khalaq/ pengenalan pada Tuhan) mengarah pada terbentuknya keyakinan akan wujud dan kekuasaan Tuhan sebagai pengatur alam. Turunnya wahyu pertama ini kemudian diikuti dengan turunnya wahyu-wahyu yang lain secara bertahap selama 23 tahun lebih. The sun just rise on the Mecca, dunia telah menemukan sinar yang membawanya menuju peradaban baru.
Bertolak dari realitas historik itu maka tidak salah jika dikatakan Al-Quran adalah Kitab informasi (an-Naba`), dan sistim informasi yang di bangun oleh al-Quran adalah berdasar fakta dan keyakinan. Fakta diperlukan untuk menggali informasi lebih jauh dan mendalam, keyakinan berfungsi untuk mendasari kebenaran; dua hal itu menjadi ciri utama kebenaran dalam sistim informatika yang dikembangkan pada abad modern ini. Kita sering mendengar istilah informasi menyesatkan, istilah itu digunakan untuk menyebut adanya informasi yang salah dan tidak bertanggungjawab, dalam istilah komunikasi disebut rumors.
Kisah tentang ‘perselingkuhan’ Aisyah dan Shafwan bin Muatthal yang dihembuskan orang-orang Yahudi Madinah yang terkenal dengan hadits al-ifki (an-Nuur: 11-12) adalah salah satu contoh informasi tidak bertanggungjawab atau tepatnya disebut rumor yang bertujuan mengacaukan stabilitas sosial-politik di kota itu. Sebaliknya informasi yang disampaikan Hud-hud tentang imperium Saba` dengan Bulqis sebagai penguasanya (an-Naml: 22-24) menunjukkan kebenaran informasi itu secara empirik. Kedua contoh tersebut menunjukkan dua karakter yang berbeda dan menjadi ciri-ciri informasi yang berkembang dewasa ini; yang satu konstruktif dan yang lain destruktif. Kedua jenis informasi ini akan selalu muncul seiring dengan silang kepentingan antar individu, antar kelompok atau bahkan antar bangsa. Pengembangan informasi memerlukan etika untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya manipulasi data atau distorsi pesan-pesan yang di bawa.
*****
Sedikitnya terdapat tiga tema pokok yang menjadi bahasan penting di dalam sistim informasi al-Quran, yaitu; pertama, masalah akidah atau keimanan; kedua, masalah hukum; ketiga, masalah ilmu dan pengetahuan. Masing-masing tema pokok ini memiliki cabang permasalahan yang dapat dikembangkan dengan berbagai disiplin keilmuan. Dari ketiga tema pokok informasi ini di antaranya ada yang baku serta tidak dapat dikembangkan dan ada pula yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan perilaku jaman. Masalah akidah adalah satu-satunya masalah baku yang tidak memerlukan campurtangan manusia sehingga tidak dapat dirubah atau dikembangkan.
Pengertian ayat; Allahu laa ilaaha illa huwa al-hayyu al-qayyuum (al-Baqarah: 255) adalah bermakna definitif yang tidak dapat diberi arti lain di luar sifat Allah yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri. Kedua jenis informasi ini tidak dapat dikembangkan sehingga keluar dari frame yang telah ditentukan secara qath’i. Berbeda dengan ayat; innamaa harrama álaikum al-maitah wa al-daam wa lahm al-hinziir.. (al-Baqarah: 173), sekalipun ayat ini bermakna definitif yang memberi informasi penetapan akan keharaman beberapa jenis objek itu, tetapi penetapan hukumnya masih dapat diperluas menyangkut jenis-jenis objek lain yang tidak patut dikonsumsi manusia.
Begitu pun dengan ayat-ayat yang berisi dorongan dan rangsangan pada manusia untuk berfikir jauh, semisal;
[3:190] Ali 'Imran (Keluarga 'Imran):Ayat 190
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
 Ayat ini selain mengandung pengertian informatif, dapat dijadikan titik tolak untuk mengembangkan fungsi penalaran terhadap resources alam dengan segala jaringan yang ada di dalamnya. Dari penalaran itu akan menghasilkan rekayasa teknologi yang dapat dikembang-biakkan terus menerus sesuai perjalanan waktu dan jamannya. Tepat sekali kata Muhammad Iqbal, Al-Quran adalah Kitab yang mengutamakan amal dari pada cita-cita, karena itu menurut al-Gazali, mentafakuri al-Quran, akan membawa kita menuju samudera af’al yang tidak bertepi.
*****
Saat ini sistim informasi telah menjadi penentu yang dominan terhadap kekuatan sebuah bangsa, semakin luas jaringan informasi yang dibangun, maka semakin luas pula hegemoni yang dikuasai. Jepang adalah salah satu contoh negara yang mengandalkan jaringan informasi, yang tingkat kemajuan setara dengan negara-negara barat. Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II membuat struktur dan fasilitas industri negara ini hancur. Tetapi dalam kurun waktu sepuluh tahun Jepang telah berhasil bangkit dan bahkan lebih modern. Pada kurun waktu 1955 – 1964 Jepang mengalami lompatan ekonomi yang menakjubkan, sehingga intensitas penetrasi pasar bergerak dramatis menekan ke berbagai negara.
Salah satu faktor penting yang mempercapat gerakan pasar industri Jepang adalah munculnya kebijakan pemerintah yang menggerakkan sektor swasta yang berfungsi sebagai information clearing hous (bursa informasi). Kebijakan ini bertujuan untuk mensuplai berbagai data kepada para pebisnis particular (swasta), sehingga dapat menghapus tingkat ketergantungannya pada pemerintah. Hasilnya, kelompok bisnis partikular berdiri setingkat dengan pemerintah dan menjadi mitra yang baik.
Hal yang sama terjadi pada Jerman (Barat, saat itu). Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II yang berakhir dengan pembelahan negara ini menjadi Barat dan Timur (sebelum reunifikasi pada tahun 90-an), dalam kurun relatif singkat membangitkan negara ini menjadi raksasa ekonomi dunia. Kemampuan Jerman mengolah data-data irformasi dunia, menghasilkan produk-produk teknologi berat dari negara Kanselir ini membanjiri pasar dunia. Penemuan teknologi Siemen dengan produk telpon selulernya tahun 80-an adalah salah satu puncak teknologi Jerman yang menguasai pasar komunikasi global, setelah negara ini menyebar informasi spektakuler melalui berbagai iklan di media massa yang belum pernah muncul sebelumnya.
*****
Begitulah keajaiban yang dibangun memalui jaringan informasi. Tidak ada sesuatu apa pun produk yang di hasilkan manusia dikenal luas, tanpa didahului oleh pembentukan informasi. Pengenalan manusia pada Tuhan, dimulai dengan turunnya wahyu (iformasi) bahwa di balik alam terdapat penggerak dan penguasa tunggal yang menjadi tumpuan hidup mereka. Ini berarti Tuhan pun memperkenalkan keberadaannya sebagai Dzat yang wajib diimani.
Dari sini kita memperoleh gembaran teoretik yang riil betapa pentingnya arti informasi bagi umat Islam. Membangun informasi berarti membangun relasi publik secara luas dan lintas antar negara dan bangsa, dan untuk mencapai tujuan ini diperlukan kemampuan mengolah data berikut segala perangkat lunak (software) yang diperlukan. Pasar hanya akan tertarik untuk membeli sebuah produk informasi (akses) jika produk yang ditawarkan memiliki daya tarik untuk di ikuti.
Sumber 1 : Klik di Sini
Sumber 2 : Klik di Sini

Sabtu, 04 Maret 2017

Makna Al-Qur'an

Tidak ada komentar:


Assalamu Alaikum wr. wb.
Kali ini saya akan membagikan postingan tentang "makna Al-Qur'an" dan berikut rinciannya :

Al-Qur'an itu apa sih ?
Alqur'an adalah firman atau wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril untuk dijadikan pedoman dan petunjuk hidup seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Al-Quran merupakan kitab suci terakhir dan terbesar yang diturunkan Allah SWT kepada manusia setelah Taurat, Zabur, dan Injil yang diturunkan kepada para Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Al-Quran merupakan kitab suci yang istimewa karena tidak hanya mempelajari dan mengamalkan isinya saja yang menjadi keutamaan, tetapi membacanya saja sudah bernilai ibadah.

Apa gunanya membaca Al-Qur'an ?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Yang berarti dengan membaca Al-Qur'an Insya Allah kita akan selalu selamat dan berada di jalan yang benar. Dan menurut saya  pribadi, Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW karena di dalamnya terdapat ayat-ayat yang merupakan kalam Allah yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Antara lain : terdapat kisah para nabi, ayat-ayat tentang akhlaq, ayat-ayat yang digunakan untuk mengobati penyakit (Tentunya dengan izin Allah), dan masih banyak lagi. 

Untuk sementara itu yang dapat saya bagi untuk kalian semua. Sekian dari saya.

Wassalamu alaikum wr. wb.
 
back to top